Senin, 19 Mei 2014

Luapan Banjir Limbah Beracun Lumpuhkan Kebun Masyarakat Birang

Berau. Metropol - Lagi masyarakat Kampung Birang, Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau. Pada 08 Mei, sekitar pukul 07 malam dikejutkan  meluapnya  lumpur limbah beracun yang di kirim salah satu anak perusahaan PT Berau. 

Dari keterangan beberapa Warga masyarakat setempat kejadian ini bukan baru ini terjadi. Namun pada tahun lalu tepatnya 2013 Lumpur limbah yang sama juga meluap. Akibatnya tanaman berupa buah buahan tak dapat di panen karna tercemar limbah. Kini terulang lagi, bahkan lebih dahsyat, karena kiriman limbah kali ini meluap hingga ke jalan, “akibat peristiwa ini kami minta perusahaan tambang mengganti kerugian  kebun kami yang rusak akibat tercemar limbah,” ungkap salah seorang warga.

Sementara itu dari hasil pengamatan beberapa awak media yang turun ke lokasi setempat, Limbah yang menggenangi kebun masyarakat melalui anak sungai di perkirakan sungai besar yang berada di Birang ikut tercemar limbah. Hal ini kalau air sungai tersebut di konsumsi. Bisa di duga masyarakat sekitar terkenah dampak limbah tersebut, yang menjadi pertanyaan juga terjadi hal ini akibat kecorobohan  pihak perusahaan yang di duga tidak melakukan pengamanan (sefty) di lapangan, masaalah penanganan limbah, sehingga hal serupa terjadi, dan kalau seperti ini terus menerus dan di biarkan saja, lambat laun  bukan hanya masyaakat Kampung Birang  yang terjangkit penyakit limbah, seluruh masyarakat yang ada di Tanjung, karena air sungai Birang bermuara ke sungai Segah yang  berada di Tangjung Redeb.

Terkait masaalah lumpur limbah yang kerap mengancam kehidupan masyarakat, Humas PT. Berau Coal, Arif Hadianto yang ditemui di ruang kerjanya baru-baru ini menjelaskan,  perusahaan bisa memaklumi dan memahami apa yang terjadi di kampung Birang, penyebab dari semua ini dikarenakan perusahaan sedang membangun konstruksi Water monitoring point (WMP) 32 yang berada dikawasan tambang, namun dalam kenyataannya di luar dugaan terjadi curah hujan yang sangat tinggi, akibat curah hujan tersebut proses kontruksi WMP 32 yang sedang di bangun belum bisa penampung air hujan tadi, sehingga seperti beginilah keadaannya, banjir limbah bercampur lumpur masuk kedaerah kebun masyarakat. Intinya, menurut dia perusahaan tetap melakukan hal yang terbaik, berupa meminimalisir dampak yang terjadi yaitu, mempercepat kontruksi WMP 32, pembangunan water monitoring point sempat terkendala karena di klem masyarakat atas tanah yang ada di lokasi tersebut,” ungkapnya.

Perusahaan bisa saja berdalih atas pembuatan dan pembangunan water monitoring Point yang di klem sementara di bangun, Namun kenyataannya tetap saja terjadi yang namanya luapan  limbah, Fakta kejadian yang terjadi pada tahun 2013 banjir telah melumpuhkan kebun akibat tidak menampungnya water monitoring point 29 yang di bangun tahun lalu. Namum buktinya jebol juga sekarang perusahaan dengan berdalih sedang melakukan pembangunan WMP 32, apakah bisa mengatasi persoalan yang sudah dua kali terjadi?, kita tunggu saja buktinya.  (Sofyan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar