Senin, 19 Mei 2014

Kades Labuh Airpandan Diduga Memperkosa Warga

Mendo Barat, Metropol - Suasana Desa Labuh Airpandan Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang selama ini tenang, mendadak menjadi sedikit mencekam. Hal ini disebabkan dengan makin membuncahnya isu yang berkembang. Soal perilaku Kepala Desa tersebut, Bdr yang oleh sebagian warga ditenggarai telah memperkosa salah satu warganya. Sebut saja Bunga perempuan yang telah memiliki suami lagipula berjilbab.

Keseharian Bunga berprofesi sebagai tenaga honor guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di Desa Labuh Airpandan. Kisah tragis ini sebenarnya telah terjadi sekitar 8 bulan yang lalu. Dan menjadi sebuah keberanian bagi Bunga untuk melapor dikarenakan dirinya sekarang ini benar-benar merasakan penderitaan teramat sangat. Apa sebab ? Ya karena selama 8 bulan belakangan ini, dirinya disibukkan oleh agenda perceraian yang langsung dilakukan oleh mantan suaminya saat mengetahui dirinya kedapatan menerima sms ajakan mengulangi perbuatan bejad tersebut dari nomor hape oknum Kades. Saat Metropol berhasil mewawancarai Bunga, sambil terisak ia menuturkan. "Benar pak, dia itu yang telah melakukan,” katanya. 

“Kejadian di hari Jum’at, waktu saya diajak boncengan berdua bareng dia. Karena kita sama-sama pengen pergi ke Sungailiat. Pulang dari sana, Kades itu omong mau buang air kecil di hutan daerah Petaling, tiba-tiba Kades itu langsung memeluk dan mengancam untuk melayani nafsu bejad dia pak,” ujar Bunga-yang dalam keseharian mencari daun nipah tersebut. 

Saat dikejar pertanyaan, waktu kejadian sekitar pukul berapa. Dengan lantang ia Bunga bertutur. "Waktu shalat Jum’at lah pak.. sekitar jam setengah satu," tambahnya. Hal selanjutnya yang masih menimbulkan keanehan adalah saat Bunga beserta keluarganya coba mendapatkan perlindungan hukum dengan melapor ke Polsek Mendo Barat. Dan diterima oleh salah satu petugas piket. Mereka bukan dilayani seperti umumnya warga negara yang lain, malah sedikit dicemooh dan dimatikan rasa keadilan  dengan mengatakan. "Wah bu.. ini sih sudah 8 bulan yang lalu, ibu sebaiknya ke Polres aja," tukas petugas jaga dengan ketus. Kemana larinya naluri investigasi petugas? Saat sebagian warga negara karena keterbatasan bahasa sulit untuk ungkapkan kejadian yang sebenarnya? Perkembangan kasus ini masih memerlukan campur tangan dari pihak terkait di negeri laskar pelangi ini. 

Polda Kepulauan Bangka Belitung dan institusi seperti Inspektorat daerah Kabupaten Bangka. Memang ada sedikit kejanggalan, manakala kita memakai alur kronologis kasus secara normal. Karena kasus ini sudah terpendam selama 8 bulan yang lalu. Yang tentunya membutuhkan visum et repertum untuk menjerat bagi pelaku. Dan baru sekarang korban dapat dengan leluasa menceritakan perkosaan tersebut, setelah lepas dari poses perceraian dengan mantan suaminya, juga mengumpulkan serpihan kepercayaan terhadap negara setelah sebelumnya pupus. 

Namun sesungguhnya yang terjadi dilapangan juga menyiratkan adanya dugaan kongkalikong antara oknum Kades dengan sejumlah orang. Ditambah penyangkalan oleh oknum Kades sendiri, saat diwawancarai oleh Metropol. "Dagde pak... apa muke ku seperti seorang pemerkosa?" lantang Kades berapi-api. Beberapa oknum yang diduga ikut mengatur pembekuan kasus ini adalah, oknum wartawan media nasional berinisial A, juga menurut keterangan oknum Kades, adanya arahan dari seorang perwira di Polsek Mendo Barat.

Sampai hari ini tidak melakukan upaya apapun untuk meredam buih yang mulai mendidih di masyarakat Desa Labuh Airpandan. Dan, niscaya sebentar lagi akan berubah menjadi amuk masa. (Lukman Hakim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar