Didada sang Nabi berkecamuk berbagai macam perasaan, namun rasa iba merupakan hal yang terbesar yang berada direlung hatinya, disampingnya, berjalan istrinya dengan wajah ketabahan serta keikhlasan mengikuti langkah berat sang Nabi, dan terlihat bayi mungil berwajah rupawan tidur terlelap dalam buaian sang ibu mengikuti alunan irama degup jantung sang bunda yang selalu berada didalam dekap kasihnya. Sesak terasa beban didada sang Nabi, Ibrahim AS, bapak para Nabi berjalan dengan sang istri, Siti Hadjar beserta anaknya Ismail AS saat meninggalkan kampung halaman untuk melaksanakan perintah tuhan, dan ada rasa lebih berat lagi ketika harus meninggalkan istri dan anaknya disebuah tempat yang tandus serta tidak adanya makhluk hidup disekitar, namun demikian itulah ujian yang harus dijalani oleh insan yang memiliki kadar keimanan yang mumpuni sehingga dapat dirasakan oleh umat manusia pada periode zaman berikutnya yang seluruh kisahnya selalu diulangi disetiap tahunnya dalam ritual ibadah haji yang menjadikannya Ka’bah menjadi kiblat kaum muslim.
Di sebuah negeri yang mempunyai banyak bangunan piramida, sang Nabi, Musa AS memerintahkan kepada umatnya, Kaum Israil untuk meninggalkan negeri Mesir, disebabkan karena semakin beratnya penindasan dan kedzaliman penguasa, Firaun, terhadap kaumnya, dan untuk kisah berikutnya maka dimulailah cerita yang sangat bersejarah dalam kehidupan Kaum Israil dengan Mukjizat sang Nabi dalam membelah lautan untuk menempati sebuah wilayah baru yang telah dijanjikan untuk mendapatkan kehidupan yang layak, tanpa ada rasa takut dari penindasan dan kelaliman penguasa.
Di tengah gurun yang tandus dan malam yang gelap terlihatlah dua sosok manusia berjalan, kedua pria yang saling bersahabat dalam iman, pergi meninggalkan kampung halaman yang sangat dicintainya, dikarenakan tekanan yang sangat berat dan penolakan terhadap ajaran baru yang akan menghilangkan sendi-sendi jahiliyah yang telah merasuk jauh kedalam diri masyarakat kota Mekah yang dicintai oleh Nabinya, Muhammad SAW.
Perjalanan yang dikenal dengan kisah Hijrahnya sang Nabi, kekasih Tuhan, utusan terakhir yang membawa risalah Islam yang telah ditunggu oleh kaumnya yang berada jauh dari kota kelahiran sang Nabi SAW, Yastrib yang sekarang dikenal dengan Kota Madinah. Cinta yang dimiliki oleh masyarakat Yastrib yang telah menggenggam nikmatnya Islam terhadap Nabinya yang sampai saat tersebut belum mengetahui sosok wajahnya, namun hanya mengetahui perilaku kebaikan dan ajarannya yang diberitakan oleh para utusan kota Madinah saat berkunjung ke kota Mekah, yang dengannya, seluruh jiwa dan raga penduduk kota Yastrib siap menerima kedatangan sang Nabi SAW dan sahabatnya, Abu Bakar RA guna mensiarkan Islam dan selalu berdekatan dengan kekasih Tuhan tersebut.
Menurut definisi kamus besar bahasa Indonesia, Hijrah adalah berpindah atau menyingkir dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan, dan sebagainya), dan menurut perspektif historis, hijrah menggambarkan penyatuan teori dan praktek dalam sebuah proses perjuangan menuju kebaikan yang terkait didalamnya perjalanan waktu. Dalam kaitannya dengan proses perjuangan memerlukan kedisipilinan dalam beberapa aspek, yang terdiri atas, 1. Disiplin Fisik, yaitu mau melakukan pekerjaan, baik dalam pengawasan maupun tanpa pengawasan. 2. Disiplin Psikis, yaitu kesadaran normatif terhadap aturan dan tata tertib baik berbentuk naratif maupun simbolik. 3. Disiplin Spiritual/Nilai, yaitu kedisiplinan terhadap nilai-nilai yang ada, berupa nilai-nilai kebaikan dan kebenaran.
Beragam makna mengenai hijrah dapat kita definisikan sesuai dengan pribadi dan keadaan, keterhubungan tersebut bisa menjadi filosofi kehidupan, baik personal ataupun korporasi. Dan setelah hampir genap dua tahun SKU Metropol hadir di masyarakat, hampir di seluruh bumi Nusantara, pihak manajemen berikhtiar dengan cara memindahkan kantor yang sebelumnya, seluruh berita diterima dan diproses didapur redaksi yang beralamat di Jalan Yos Sudarso - Fort Barat No. 11, Jakarta Utara, kini memiliki gedung kantor yang lebih representatif yang beralamat di Jalan Mundu Raya Blok N No. 36, Jakarta Utara. Akan halnya meneladani kisah perjuangan historis orang-orang yang mengukir namanya dalam sejarah dunia, manajemen Metropol ingin memaknai hijrah dalam makna dan tujuan yang lebih besar lagi.
Proses penerimaan berita dari seluruh Indonesia, perdebatan tim redaksi mengenai layak atau tidak layaknya sebuah berita akan dinaikkan kedalam sebuah edisi layak cetak, proses perbaikan berita dengan melakukan revisi dalam penulisan, sampai tahap penempatan berita dalam sebuah kolom berita untuk menjadi surat kabar yang layak dibaca oleh masyarakat Indonesia, hal tersebut memerlukan tempat dan kondisi dalam kaitannya dengan kebaikan kerja untuk menghasilkan sebuah hidangan berita yang pantas dibaca oleh masyarakat Indonesia. Seluruh pertimbangan tersebut memaksa manajemen untuk memindahkannya. Dan peran pembina SKU Metropol dalam mensupport menuju perbaikan sangat berandil besar dalam pelaksanaannya, sehingga wadah yang kita miliki saat ini dapat memungkinkan kita untuk bisa memberikan kontribusi yang lebih besar lagi, dan sinergi yang terjalin antara manajemen dan seluruh wartawan dapat menjadi sebuah kebaikan bagi seluruh personal yang berada di dalam naungan manajemen SKU Metropol.
“Jangan menunggu waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu, karena waktu tidak akan pernah tepat bagi mereka yang menunggu”. “Kesalahan adalah pengalaman hidup, belajarlah darinya. Jangan mencoba untuk menjadi sempurna, cobalah menjadi teladan bagi sesama”. “Jika yang kamu cari belum kamu dapati, periksa kembali apa yang kamu cari, karena apa yang kamu lihat tergantung dari apa yang kamu cari”. “Kita tidak sendirian dalam gelap, jalan kita akan terungkap saat kita bergerak”.
Demikian kalimat tutur bijak yang penulis kutip, hal tersebut untuk mengingatkan penulis dan sahabat-sahabat wartawan SKU Metropol untuk selalu bersama dalam membangun SKU Metropol untuk menjadi lebih baik. Semoga……!!!.
Di sebuah negeri yang mempunyai banyak bangunan piramida, sang Nabi, Musa AS memerintahkan kepada umatnya, Kaum Israil untuk meninggalkan negeri Mesir, disebabkan karena semakin beratnya penindasan dan kedzaliman penguasa, Firaun, terhadap kaumnya, dan untuk kisah berikutnya maka dimulailah cerita yang sangat bersejarah dalam kehidupan Kaum Israil dengan Mukjizat sang Nabi dalam membelah lautan untuk menempati sebuah wilayah baru yang telah dijanjikan untuk mendapatkan kehidupan yang layak, tanpa ada rasa takut dari penindasan dan kelaliman penguasa.
Di tengah gurun yang tandus dan malam yang gelap terlihatlah dua sosok manusia berjalan, kedua pria yang saling bersahabat dalam iman, pergi meninggalkan kampung halaman yang sangat dicintainya, dikarenakan tekanan yang sangat berat dan penolakan terhadap ajaran baru yang akan menghilangkan sendi-sendi jahiliyah yang telah merasuk jauh kedalam diri masyarakat kota Mekah yang dicintai oleh Nabinya, Muhammad SAW.
Perjalanan yang dikenal dengan kisah Hijrahnya sang Nabi, kekasih Tuhan, utusan terakhir yang membawa risalah Islam yang telah ditunggu oleh kaumnya yang berada jauh dari kota kelahiran sang Nabi SAW, Yastrib yang sekarang dikenal dengan Kota Madinah. Cinta yang dimiliki oleh masyarakat Yastrib yang telah menggenggam nikmatnya Islam terhadap Nabinya yang sampai saat tersebut belum mengetahui sosok wajahnya, namun hanya mengetahui perilaku kebaikan dan ajarannya yang diberitakan oleh para utusan kota Madinah saat berkunjung ke kota Mekah, yang dengannya, seluruh jiwa dan raga penduduk kota Yastrib siap menerima kedatangan sang Nabi SAW dan sahabatnya, Abu Bakar RA guna mensiarkan Islam dan selalu berdekatan dengan kekasih Tuhan tersebut.
Menurut definisi kamus besar bahasa Indonesia, Hijrah adalah berpindah atau menyingkir dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan, dan sebagainya), dan menurut perspektif historis, hijrah menggambarkan penyatuan teori dan praktek dalam sebuah proses perjuangan menuju kebaikan yang terkait didalamnya perjalanan waktu. Dalam kaitannya dengan proses perjuangan memerlukan kedisipilinan dalam beberapa aspek, yang terdiri atas, 1. Disiplin Fisik, yaitu mau melakukan pekerjaan, baik dalam pengawasan maupun tanpa pengawasan. 2. Disiplin Psikis, yaitu kesadaran normatif terhadap aturan dan tata tertib baik berbentuk naratif maupun simbolik. 3. Disiplin Spiritual/Nilai, yaitu kedisiplinan terhadap nilai-nilai yang ada, berupa nilai-nilai kebaikan dan kebenaran.
Beragam makna mengenai hijrah dapat kita definisikan sesuai dengan pribadi dan keadaan, keterhubungan tersebut bisa menjadi filosofi kehidupan, baik personal ataupun korporasi. Dan setelah hampir genap dua tahun SKU Metropol hadir di masyarakat, hampir di seluruh bumi Nusantara, pihak manajemen berikhtiar dengan cara memindahkan kantor yang sebelumnya, seluruh berita diterima dan diproses didapur redaksi yang beralamat di Jalan Yos Sudarso - Fort Barat No. 11, Jakarta Utara, kini memiliki gedung kantor yang lebih representatif yang beralamat di Jalan Mundu Raya Blok N No. 36, Jakarta Utara. Akan halnya meneladani kisah perjuangan historis orang-orang yang mengukir namanya dalam sejarah dunia, manajemen Metropol ingin memaknai hijrah dalam makna dan tujuan yang lebih besar lagi.
Proses penerimaan berita dari seluruh Indonesia, perdebatan tim redaksi mengenai layak atau tidak layaknya sebuah berita akan dinaikkan kedalam sebuah edisi layak cetak, proses perbaikan berita dengan melakukan revisi dalam penulisan, sampai tahap penempatan berita dalam sebuah kolom berita untuk menjadi surat kabar yang layak dibaca oleh masyarakat Indonesia, hal tersebut memerlukan tempat dan kondisi dalam kaitannya dengan kebaikan kerja untuk menghasilkan sebuah hidangan berita yang pantas dibaca oleh masyarakat Indonesia. Seluruh pertimbangan tersebut memaksa manajemen untuk memindahkannya. Dan peran pembina SKU Metropol dalam mensupport menuju perbaikan sangat berandil besar dalam pelaksanaannya, sehingga wadah yang kita miliki saat ini dapat memungkinkan kita untuk bisa memberikan kontribusi yang lebih besar lagi, dan sinergi yang terjalin antara manajemen dan seluruh wartawan dapat menjadi sebuah kebaikan bagi seluruh personal yang berada di dalam naungan manajemen SKU Metropol.
“Jangan menunggu waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu, karena waktu tidak akan pernah tepat bagi mereka yang menunggu”. “Kesalahan adalah pengalaman hidup, belajarlah darinya. Jangan mencoba untuk menjadi sempurna, cobalah menjadi teladan bagi sesama”. “Jika yang kamu cari belum kamu dapati, periksa kembali apa yang kamu cari, karena apa yang kamu lihat tergantung dari apa yang kamu cari”. “Kita tidak sendirian dalam gelap, jalan kita akan terungkap saat kita bergerak”.
Demikian kalimat tutur bijak yang penulis kutip, hal tersebut untuk mengingatkan penulis dan sahabat-sahabat wartawan SKU Metropol untuk selalu bersama dalam membangun SKU Metropol untuk menjadi lebih baik. Semoga……!!!.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar