Selasa, 18 September 2012

Bantaeng Sebagai Kabupaten Berbasis Desa Mandiri

Bantaeng, Metropol.

Prof. DR.H. Nurdin Abdullah, MM. Bupati Bantaeng, mengutarakan, bahwa visi ke depan pembangunan Bantaeng, telah dicanangkan program menjadikan Kabupaten Bantaeng sebagai wilayah terkemuka berbasis desa mandiri dengan menanamkan lima program, yaitu,

Peningkatan kapasitas SDM. Mewujudkan Kelurahan dan Desa Mandiri. Mewujudkan intensitas terpadu. Mewujudkan pusat pertumbuhan ekonomi di  wilayah sekitarnya. Dan mewujudkan pemerintah yang amanah.

Lanjut Nurdin Abdullah mengatakan, untuk mencapai tujuan kelima program ini, maka Dr. H. M. Nurdin Abdullah, yang menahkodai Kabupaten Bantaengtelah menetapkan program pembangunan di atas tiga pilar, yaitu : 1. Pilar penanggulangan kemiskinan dan pengangguran. 2. Pilar menjadikan Kabupaten Bantaeng benih berbasis teknologi. 3. Pilar Bantaeng sebagai pusat perkembangan ekonomi baru.

Program yang dicanangkan ini, bukan program muluk – muluk, tapi program ini di dasari dari hasil ev aluasi Badan Penelitian Provinsi Sulawesi Selatan, tentang kajian layanan publik terhadap kabupaten dan kota. Hasil evaluasi Bank Indonesia melalui pendekatan regional Long Devision Ratio (LDR), MOU dengan Ehime Toyota Jepang, menjadikan Kabupaten Bantaeng sebagai daerah binaan dalam rangka akselerasi pembangunan di Kabupaten Bantaeng.

Dari Badan Evaluasi Penelitian Provinsi Sulawesi Selatan, Bantaeng berhasil menduduki rangking pertama dengan nilai 93,72%, disusul masing – masing dari Kabupaten Pangkep, Barru dan Enrekang, serta urutan kelima Sinjai.

Penilaian ini, melalui beberapa pendekatan. Diantaranya pendekatan pendidikan, kesehatan dan daya beli masyarakat. Hasil penilaian Bank Indonesia, melalui pendekatan regional, Long Devision Ratio (LDR), Kabupaten bantaeng berhasil meraih rangking 1 dengan nilai 135%.

Dalam skala nasional, Kabupaten Bantaeng berdasarkan survey Bappenas melalui pendekatan wilayah kabupaten tertinggal, dari 14 kabupaten tertinggal di Sul-Sel, Kabupaten Bantaeng sudah keluar dari kabupaten tertinggal, yang sebenarnya pemerintah menargetkan keluar dari kabupaten tertinggal nanti pada tahun 2012.hasil ini diperoleh melalui survey Bappenas yang dilakukan berdasarkan pendekatan pendidikan, kesehatan dan ekonomi, infrastruktur dan kapasitas keuangan daerah.

Skala internasional, Kabupaten Bantaeng juga telah berhasil melakukan MOU dengan Ehima Toyota Jepang, menjadikan Kabupaten Bantaeng sebagai daerah binaan dalam rangka akselerasi pembangunan di Kabupaten Bantaeng.

Prestasi yang kini telah dimiliki Kabupaten Bantaeng, tentu kita ketahui bersama bahwa tidak mungkin dating dengan sendirinya, tetapi prestasi yang diperoleh Kabupaten Bantaeng diraih atas dasar kerja keras pemerintah masa sekarang ini, Dr. Nurdin Abdullah. Dan keberhasilan ini tidak lepas dari kerjasama dengan semua komponen yang terkait dalam struktur pemerintahannya.

Terbukti, program pembangunan yang direncanakan telah mengalami proses perealisasian. Seperti baru – baru ini telah dilakukan pembangunan rumah sakit berlantai lima.

Bidang pariwisata, pemerintah merencanakan pembangunan wisata pantai yang refresentatif dan sudah dilaksanakan pembangunan tempat rekreasi di Korongbatu, yang bertaraf internasional dengan luas areal 4 hektar.

Bidang perikanan dan kelautan serta perhubungan, telah dilakukan pembangunan pelabuhan samudra terletak di desa Bonto Jai. Serta sarana perhubungan darat yang semakin luas sehingga dapat membuat transportasi darat semakin lancar dan aman.

Bidang perdagangan, telah dibangun pusat perbelanjaan dengan desain yang padu sebagai pasar tradisional dengan suasana modern yang berlokasi di Lambocca. Tidak ketinggalan Dinas Kehutanan yang di nahkodai Ir. Hero, sebagai Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan. Telah merintis, menjadikan kota Bantaeng sebagai kota penghijauan.

Yang tak kalah pentingnya, Pemerintah Kabupaten Bantaeng telah menandatangi kerjasama Jepang dalam bidang ekspor Talas, dengan wacana kalau disiapkan lahan seluas 200 ha dengan hasil 300 ribu ton/tahun. Diprediksi royalty Rp. 10.000/kg, akan diperoleh pemasukan per tahun dari ekspor Talas ini sebesar Rp. 30 milyar/tahunnya. (Jalal Maulana)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar